Sabtu, 29 Agustus 2015

Just My Imagination

Awalnya mungkin tak pernah mengira, tak pernah terbesit rasa ragu, tak pernah menyangka bakal ada hal buruk, dan tak pernah lainnya yang tak pernah terpikirkan. Semua itu terangkum atas dasar percaya. Percaya pada satu jiwa. Yang entah siapa tak diketahui wujudnya.

Di dalam hidup ini, memang tak semua orang dapat dipercaya, namun tak semua orang juga dapat menjaga rahasia. Hidup ini pilu. Ketika rasa percaya, dikhiananti mentah-mentah. Dan rahasia, bukanlah suatu rahasia, melainkan hanya ucapan belaka yang disimpan dan kapan saja dapat ditumpahkan.

Dalam kehidupan ini rasa percaya akan tumbuh jika sudah benar-benar melihat, utuh. Tapi jangan lupa, ada sesuatu hal yang tak terlihat namun dapat dipercaya. It's imagination. Dan kamu seperti imajinasi. Imajinasi yang hanya hidup bukan di dunia sebenarnya. Imajinasi yang selalu menampung semua cerita meski dicelupkan ke dalam bejana yang berlubang. Sia-sia. Dan itu sulit dipercaya. Karena kepercayaan yang sulit dipercaya adalah kepercayaan yang dikhiananti orang yang dipercaya. Just it.

Rabu, 26 Agustus 2015

New Love

Setiap pagi saya selalu menemukan cinta yang baru. Cinta yang disisihkan secara cuma-cuma oleh sebagian orang. Cinta seorang bapak yang mengantar anaknya sekolah, cinta seorang abang gojek mengantar penumpangnya, cinta seorang tukang parkir menjaga kendaraan yang dititipkannya. Dan cinta siapa saja yang dapat diakatakan cinta, meski bukan berarti makna cinta sebenarnya.

Cinta itu unik. Dapat hadir oleh siapa saja dan sebab apa saja, entah karena pekerjaannya kah, karena eksistensinya kah, atau karena yang lainnya yang membuat diri menjadi semangat karena faktor cinta. 

Cinta itu menarik, seperti melihat seseorang tersenyum yang mampu menciptakan kebahagiaan bagi orang yang melihatnya. 

Dan semuanya adalah cinta yang sederhana, yang menjadikan keikhlasan sebagai bahan utamanya. Karena ikhlas membuat cinta selalu baru dan tersirat.

***





Senin, 24 Agustus 2015

Sepi

Kalau dipikir-pikir, hidup itu sepi ya, jika tidak ada komentar dan perbincangan. Hidup terasa sepi itu ibarat sosial media, cuma bisa melihat postingan orang lain, retweet postingannya atau like postingannya tapi tanpa memberi komentar dan tanpa ada perbincangan atau sekedar chat biasa. Kayak di blog gue aja, gak ada yang komentar dan pastinya gak ada perbicangan, sepi. Makanya buat para pembaca, beri komentarnya dong di sini, jangan beri komentar lewat chat pribadi. Hehehe 

Hidup itu kayak hidup di sosial media, ada yang hidupnya selalu pamer dengan postingan-postingannya tapi giliran diberi komentar malah gak ada balasan, hidupnya cuma untuk pamer dan gak terima perbincangan. Ada juga yang hidup di sosial media hanya untuk dagang, yang seperti itu mungkin dapat dikatakan "hidup", selain selalu dikomentari dan tentunya selalu ada perbincangan meskipun perbincangan di sini hanya untuk penjual dan pembeli yang berminat, kalau tidak berminat, maka sepilah hidupnya. Ada juga yang kehidupannya ramai, tapi sayangnya hidupnya terasa ramai jika di sosial media saja alias hanya di dunia maya, selebihnya hidupnya sepi di dunia nyata.

Hmm... pasti masih pada bingung ya ini tulisan absurd apa?

Jadi, intinya hidup itu sepi jika tanpa perbincangan. Kayak tempo hari di salah satu stasiun di Jakarta, kelihatannya sih ramai pengunjung, tapi suasana di sana justru sepi. Karena mereka memiliki dunia ramai yang tersendiri; dunia maya. Dan yang lebih gak enaknya lagi, di dunia nyata terasa sepi, di dunia maya juga ikutan sepi. Gak ada kehidupan yang menarik. Memang begitulah, kalau hidup tanpa ada komunikasi dengan orang lain. 

Minggu, 23 Agustus 2015

Tetapi

Ada beberapa hal di dalam hidup gue yang belum terlaksana dengan rapi dan menawan. Sesuatu hal yang sangat gue inginkan tetapi belum tercapai. Ini bukan soal cita-cita, juga bukan kisah asmara, tetapi soal minat yang terpendam lantaran malu untuk merealisasikannya. 

Barusan gue membaca sebuah tulisan dari penulis yang sedang cetar di khayalak pecinta puisi; M. Aan Mansyur. Di dalam tulisannya, gue menemukan sebuah kalimat yang renyah pas dibaca, "Tetapi, kau tahu, hidup selalu punya tetapi."

Kembali ke awal, ada beberapa keinginan dalam hidup gue tetapi belum ke taraf pencapaiannya. Salah satunya adalah gue ingin baca puisi. Udah gitu aja. Jujur, gue menikmati semua puisi dari berbagai penulis, terkenal gak terkenal atau bagus gak bagus. Karena bagi gue, puisi itu adalah kejujuran. 

Waktu gue kelas 3 SMP, memang sudah diwujudkan. Gue baca puisi di depan teman-teman sekelas gue. Di luar kelas, di lapangan bulu tangkis di depan kantin, dan di samping kolam ikan, sedang praktek musikalisasi puisi, pelajaran Bahasa Indonesia. Gue beserta teman sekompok maju di depan guru dan teman-teman, awalnya bukan gue yang ditunjuk untuk membaca puisi saat sesi baca puisi sendirian, namun sesaat ingin tampil, justru gue yang ditunjuk tiba-tiba. Spontan, gue menghafal puisi buatan teman gue, dan kemudian saat eksekusi, puisi yang baru beberapa menit gue hafal malah hilang semuanya. Akhirnya, gue harus merombak di saat gue berdiri dan membaca puisi. Yang awalnya puisi teman gue, berubah jadi puisi dadakan ala gue. Syukurnya, semuanya hening akan penampilan gue saat itu. Entah hening karena apa. Hohoho... 

Lepas dari bangku SMP, sebetulnya gue selalu ingin ikut perlombaan baca puisi, nulis cerpen, dan lain-lainnya yang berhubungan dengan dunia sastra. Tetapi, semua hanyalah keinginan belaka. Bisa menginginkan tetapi tidak bisa menentukan. Alhasil, gue selalu memandang dari jarak kejauhan bila melihat teman-teman sedang lomba baca puisi dan berdiri di lapangan sekolah pas tempat pembina upacara menyampaikan pidatonya. Dalam hati selalu bersuara, "kapan lo berani tampil ke depan?"

Dan sekarang, gue masih malu untuk tampil ke depan, padahal banyak perkumpulan teman-teman se-takdir yang ditakdirkan suka dengan puisi. Itulah keinginan gue; gue ingin baca puisi. Menyampaikan kejujuran lewat kata per kata dan intonasi, memberikan pesan pada bait yang didengarkan dan memekik rindu pada semua kejujuran. 

Namun semua hanya keinginan yang masih disisipakan kata "tetapi". 

Jumat, 21 Agustus 2015

Di Dalam Perpustakaan

Di Dalam Perpustakaan


Sepasang muda-mudi duduk berkerumun
Beberapa bangku ditemani meja yang anggun
Tak ada suara, hanya pergerakan tangan yang berlari
Muka pucat, pening, dan gundah yang terlihat
Setumpuk tugas alasan mereka tak berkutat

Dengan penuh kekhidmatan
Buku-buku di dalam rak pun ikut bersorak
Menyaksikan wajah-wajah kebingungan
Menyangkal bahwa mereka sungguh belajar

Kasihan memang anak Indonesia
Diberi beban tugas bak ukuran gunung
Ditaruh di pundak dan dalam otaknya
Dibawa kemana pun beban terselubung

Terus memegang kepala
Rasanya seperti balon yang makin mengerat
Siap meledak!

Di dalam perpustakaan 
Tak lagi ada rasa penyejukan
Mereka panas dengan tugasnya
Sementaraku dingin karena melihatnya

***




Rabu, 19 Agustus 2015

Rasa cinta berbagai versi

Cinta Sebelah Mata

Jika pagi ingin menyapa. Kerumunan kabut pun
mengelilinginya. Membuat pandangan kabur sejenak.
Menghela napas secara jeda. Menunggu dengan tabah.
Menyaksikan kabar baik dari kedatangan matahari.
Matahari pagi penghangat sepanjang hari,
yaitu kamu.



Mungkin sajak di atas dikhususkan untuk mata kanan salah seorang teman yang belum menyadari keberadaan mata kirinya. Dia melihat cinta sebelah matanya, bak seseorang yang terlalu menggilai kedatangan pagi. Rela menunggu demi kabar baik dari sang mentari. Dan rela mencuri waktu demi ingin melihat sang penghangat pagi. Padahal boleh jadi mata kirinya menghambakannya untuk tertidur, pulas bermain di alam mimpi, dan membiarkan matahari sudah terlihat tanpa perlu menunggu kedatangannya. Toh matahari akan selalu datang meski tak ditunggu. Namun bukan itu alasan terkuatnya. Bahwasanya melihat matahari datang perlahan-lahan adalah waktu yang paling indah dalam proses penghangatannya. Dia menyukai matahari yang selalu datang tepat waktu dengan segala pesonanya. Dan matahari itu adalah kamu, seseorang yang disukainya.

Entahlah, harus berapa lama lagi sepasang telinga menjadi saksi cerita akan mataharinya. Dan harus sampai kapan menahan muak melihat wajahnya merona jika mengingat mataharinya. Konon katanya, orang yang sedang mengidap cinta sebelah mata sama seperti orang yang menjejali cinta buta. Tak bisa melihat sepenuhnya, hanya indera perasa saja yang dibekalinya. 

Bahkan ada juga yang terjangkit dengan cinta diam-diam. Bicara cinta ini memang tak akan habis versinya, meski kebanyakan ceritanya sama. Beralih dari mataharinya yang sama sekali belum melirik kepadanya. Miris sih, tapi biarlah sepasang matanya berdamai secara bersamaan. Kita doakan saja semoga nantinya akan baik-baik saja akhir dari cinta sebelah matanya. 

Di sisi lain, saya ingin memutar cerita salah seorang teman yang justru menekan suaranya di dalam diam, menekan perasaannya di dalam hati, tak terdengar sama sekali, padahal orang yang disukainya adalah kerabat dekatnya sendiri. TIpe orang seperti ini memang pandai bermain wajah di depan orang lain dan di depan orang yang disukainya, namun di dalam batinnya, dia tak dapat menipu dirinya sendiri. Sebut saja dia Marlena. Gadis perempuan yang sudah geregetan akan tingkahnya. "Tinggal bilang suka saja kok ribet. Toh ke teman dekatnya, kan?" 

Hmm.. memang sih sebagian perempuan masih terbilang gengsi dan malu soal menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Tapi kan tak ada salahnya juga, daripada terus menikam dirinya sendiri, memenjarakan perasaannya, dan menelantarkan pikirannya. Bahkan yang lebih bodohnya lagi adalah menyuruh teman yang lainnya untuk bersedia didekatkan dengan orang yang disukainya. Itu mah sama saja bunuh diri perlahan-lahan, mbok ya kalau suka ojo begitu, itu juga sama saja menyakitkan diri sendiri meski dari sisi luar terlihat bahagia.

Ini ceritanya si Marlena suka dengan kerabatnya yang bernama Sabari. Namun karena Marlena merasa tidak cocok dengan Sabari, lantaran dia pikir Sabari lebih baik bersama Syifa saja. Syifa terlihat lebih sempurna untuk mendampingi Sabari. Begitulah jika perasaannya yang menggebu justru menjadi debu. Tak ada rasa percaya diri, padahal bisa jadi, Sabari juga menyukai Marlena. Cuma perasaan Sabari seperti namanya, masih sabar dalam bentuk rasa sukanya. Atau jangan-jangan Sabari juga berpikir bahwa Marlena lebih baik tidak bersamanya? Haduh, ribet sekali perkara cinta ini. Rasanya ingin menarik Marlena dan Sabari, menekan mereka agar menyuarakan perasaannya. Jika yang satu suka dan yang satunya lagi juga suka, yasudah. Jika yang satu suka namun yang satunya tidak suka, yasudah. Sederhananya cinta adalah kejujuran tanpa harus mengaitkan orang ketiga yang tak bersalah.

Sayangnya, itu semua adalah khayalan. Mengkhayalkan Marlena mengatakan perasaannya ke Sabari. Tapi kenyataannya tetaplah sama. Biarlah Marlena sendiri yang akan mengarahkan perasaannya. Toh dia lebih tahu bagaimana dirinya. Sebagai seorang pendengar, kewenangan kita adalah mendengarkan, memberikan sepasang telinga sepenuhnya dan juga memberikan sepatah kalimat jika dimintanya. 

Soal cinta memang terdengar rumit, namun sejatinya cinta itu adalah hal yang sederhana. Menyatukan pendengaran, penglihatan, dan perasaan dengan baik. 

***

NB: Marlena, Sabari, dan Syifa adalah nama yang tidak sebenarnya. 








Selasa, 18 Agustus 2015

Kamu

Seharusnya kemarin, tepat di tanggal delapan belas. Di mana angka yang selalu membawa pada kenangan manis. Delapan belas september dua ribu sembilan, itulah pertama kali aku dan kamu bertemu. Di salah satu bangku penumpang yang berhadapan, aku dan kamu terjalin dalam sebuah perkenalan semu. Ingatkah saat itu bagaimana wajahmu pertama kali kulihat? Dan ingatkah kamu akan sebuah senyuman yang tak sengaja aku berikan? Di gerbong tiga dari belakang, aku menghitung jarak perpisahan dan harapan. 

Tak ada acara saling tukar kontak, namun selang sebulan aku dan kamu terpisah karena tujuan kota yang berbeda. Kamu datang bak hantu yang bergerayangan. Di sekolahku saat itu, dua kali aku dan kamu bertemu. 

Dan waktu terus mengeratkan di antara dua muda-mudi yang sudah saling menyukai. Namun, waktu juga yang telah merenggangkannya. 

Bersabarlah... sejauh aku dan kamu terus menanti seperti dulu. Akan ada waktu di mana nanti aku dan kamu bertemu dengan yang sudah ditentukanNya.